Reinkarnasi Itu Rasional

BILA Anda berjalan-jalan ke toko buku, Anda akan menemukan sebuah buku dengan judul Islam Esoteris, terbitan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Buku setebal 204 (plus xxxvi) ini berupa kumpulan dialog yang dilakukan Anand Krishna dengan Achmad Chodjim dan Moulana Wahiduddin Khan.

Anand Krishna, sebagai seorang humanis, adalah penulis produktif tentang kehidupan. Tak kurang dari 30 buku sudah dihasilkannya, dan umumnya laris manis. Kali ini ia membukukan dialognya dengan Achmad Chodjim -seorang eksekutif di sebuah perusahaan Jepang, dan Wahiduddin Khan, ulama reformis asal India.

Buku ini mulai beredar pekan lalu, mengupas tema-tema besar yang berkaitan dengan spiritual, tentang kehidupan, akhirat, dan reinkarnasi. Ketika membaca tema-tema spiritual, kehidupan, dan akhirat, kita tidak menemukan hal-hal baru.

Tapi sampai di bagian risalah reinkarnasi (hasil dialognya dengan Chodjim), ada sesuatu yang lain: ketidaklaziman. Ketidaklaziman itu berkait dengan penafsiran yang dilakukan Chodjim terhadap ayat-ayat Al-Quran yang diyakininya sebagai ayat-ayat reinkarnasi. Ayat-ayat tersebut, antara lain:

“Mengapa kamu ingkar pada Allah padahal dulunya kamu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali, lalu kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Q.S. 2: 28)

“Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali, lalu kami mengakui dosa-dosa kami, maka adakah jalan keluar bagi kami?” (Q.S. 40: 11).

Achmad Chodjim menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagai pembenaran atas adanya reinkarnasi. Tentu saja ini sesuatu yang baru, karena beberapa kitab tafsir klasik dan modern terkemuka tak memberi penafsiran seperti itu.

Kita simak kitab tafsir Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ayy al-Qur’an karya Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir al-Thabari (wafat tahun 210 Hijriyah). Kitab ini populer dengan sebutan Tafsir al-Thabari, menta’wilkan dua kematian pada ayat di atas.

Yaitu, kematian pertama ketika manusia masih berbentuk nutfah dalam tulang belakang ayahnya. Kematian kedua, ketika nyawa manusia dicabut dari kehidupan dunia ini. Dua kehidupan dita’wilkan sebagai kehidupan di dunia, dan di akhirat kelak. Pendapat ini dikutip dari ahli tafsir pada masa sahabat, yaitu Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.

Tafsir al-Thabari ini tergolong tafsir induk, sering menjadi rujukan penafsir-penafsir berikutnya. Sistematika penulisannya pun unik dan ilmiah. Tiap kali menafsirkan ayat Quran, Al-Thabari selalu mengumpulkan berbagai pendapat yang pernah ada sejak masa sahabat dan tabi’in, lalu menetapkan pendapat terkuat dengan argumen tertentu.

Tafsiran model Al-Thabari atas ayat di atas juga ditemukan dalam Tafsir Al-Kasysyaf karya Mahmud bin Umar al-Zamahsyari (wafat tahun 538 Hijriyah). Tafsir ini dikenal rasional. Zamahsyari adalah pengikut teologi Mu’tazilah dan dalam bidang fikih mengikuti madzhab Hanafiyah.

Begitu rasionalnya, sebagian ahli ilmu Al-Quran menilai tafsir ini terlampau jauh memberi tafsiran, hingga ada yang menilainya rusak dan bid’ah (mengada-ada). Namun tafsiran atas ayat di atas tetap sama dengan tafsir Al-Thabari.

Tafsir Ibnu Katsir (wafat tahun 774 Hijriyah), yang tergolong corak tafsir bil ma’sur (menafsirkan dengan sesama ayat Quran dan Hadis), menguatkan penafsiran Thabari dan Zamahsyari. Begitu pula Tafsir Munir, sebuah tafsir kontemporer yang ditulis Dr. Wahbah Zuhaili, guru besar Universitas Damsyiq, Syiria.

Menurut Dr. Kautsar, dosen Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, secara umum para pemikir Islam menolak paham reinkarnasi. Ibnu ‘Arabi yang dikenal liberal itu, dalam penelitian Kautsar, tak punya pandangan semacam itu.

Kautsar sendiri menilai pandangan tentang reinkarnasi itu rasional. Menurut Kautsar, bila ada orang yang dari lahir sudah menderita, maka itu bisa dijelaskan sebagai akibat perilakunya pada masa lalu.

“Ini rasional sekali. Sehingga kita tidak selalu menjawab misteri keadilan Tuhan dengan kata-kata taqdir Tuhan,” katanya. Penganut reinkarnasi, menurut Kautsar, juga mengakui alam akhirat. “Jadi, pesan dasar paham reinkarnasi itu tak bertentangan dengan Islam,” paparnya.

Misalnya, ia mengakui adanya hari akhirat. Bedanya, untuk menuju akhirat, bagi penganut reinkarnasi, jalannya berulang-ulang. Sedangkan bagi yang tidak percaya, jalannya linear. “Ia juga meyakini ada hukum sebab akibat, sehingga mendorong orang berbuat lebih baik,” kata Kautsar.

Berbeda dengan Kautsar, adalah Dr. Nasaruddin Umar, Purek IV IAIN Syarif Hidayatullah. Spesialis tafsir ini menolak konsep reinkarnasi, bila yang dimaksud sama dalam pengertian agama Hindu.

“Misalnya, manusia bisa berinkarnasi menjadi hewan atau tumbuhan. Atau jangan-jangan kita berasal dari ruh babi, atau kelak kita menjadi babi,” katanya. Bila itu diterima, menurut Nasaruddin, berarti buyar semua konsep Islam. “Tapi, kalau dalam pengertian proses, misalnya, manusia diciptakan dari bumi lalu kembali ke bumi, itu bisa,” paparnya.

Tentang penafsiran ayat-ayat yang dilakukan oleh Achmad Chodjim, terutama berkaitan dengan reinkarnasi, Nasaruddin melihat ada yang berkaitan dengan ayat yang bisa dibawa-bawa ke sana. “Tapi kalau itu diterima, akan tabrakan dengan ayat-ayat lain,” katanya. Ayat-ayat lain yang bertabrakan, menurut Nasaruddin, adalah ayat pengakuan tentang hari kiamat, dan adanya alam barzah. “Kalau akhirat tak diakui, surga/neraka hanya seperti di dunia ini,” katanya.

Anand Krishna, sebagai penulis buku ini, tak hendak mengajak pembaca untuk mencari pembuktian tentang reinkarnasi. Apa yang dipaparkan dalam buku-bukunya, kata Krishna, adalah suatu pengalaman pribadi yang mungkin juga pernah dialami oleh pembacanya.

“Saya tidak berkepentingan untuk membuktikan kebenaran, karena kebenaran tidak membutuhkan pembuktian,” kata Anand, yang pada Mei 1998 meluncurkan buku Reinkarnasi, Hidup tak Pernah Berakhir itu.

Walau begitu, buku Islam Esoteris menarik untuk dijadikan wacana dialog, guna menambah wawasan serta pemahaman tentang keberagamaan kita.

Cameron Macaulay

Seorang anak yang mampu menceritakan kehidupan masa lampaunya

Harian Inggris The Sun telah memuat di internet berita tentang seorang anak lelaki yang bisa mengingat masa lampaunya.  Anak lelaki berusia 6 tahun yang bernama Cameron Macaulay, satu-satunya yang membedakan ia dengan anak lelaki sebayanya ialah ia selalu membicarakan bahwa ia mempunyai ibu dan keluarga serta menyukai menggambar rumahnya sendiri, sebuah rumah putih yang terletak di tepi pantai.  Kesemuanya itu tidak lagi berkaitan dengan kehidupannya kini. Tempat yang diceritakannya, dia sendiri tidak pernah tahu, dan terletak di pulau Bara berjarak 160 mil dari kediamannya sekarang ini.

Menurut Norma, ibunya Cameron Macaulay sekarang, semenjak kecil Cameron sesudah mulai bisa bicara, ia sudah lantas mengkisahkan kehidupan masa kanak-kanaknya sewaktu berada di pulau Bara. Ia mengkisahkan orang tua masa lampaunya dan bagaimana ayahnya meninggal, juga kakak perempuan maupun kakak laki-lakinya. Ia juga bilang ibu yang ia sebut-sebut ialah ibu masa lampaunya. Ia percaya penuh bahwa ia memiliki kehidupan masa lampau, Cameron sangat kuatir keluarga masa lampaunya merindukannya.  Ia berharap keluarganya di pulau Bara mengetahui bahwa ia kini baik-baik saja.

Cameron bahkan di penitipan anak juga tak hentinya menceritakan rumah masa lampaunya, mereka melakukan apa, bagaimana ia dari jendela kamar tidurnya menonton pendaratan pesawa, ia mengomel rumahnya sekarang hanya mempunyai 1 kamar mandi, sedangkan rumahnya di pulau Bara mempunyai 3 buah.  Ia menangis menginginkan ibu masa lampaunya, bilang bahwa ia merindukannya.

Oleh karena Cameron terus menerus memohon Norma membawanya ke pulau Bara, akirnya Norma memutuskan membawanya ke pulau tersebut, juga pakar psikiater universitas Virginia: doctor Jim Tucker ikut mengiringi perjalanan mereka, ia adalah seorang pakar penelitian reinkarnasi anak. Cameron sekeluarga pada bulan Februari 2006 pergi ke pulau Bara. Sewaktu pesawat itu benar-benar mendarat, segalanya persis dengan yang diceritakan oleh Cameron. Pihak penginapan memberitahu Norma, pernah ada bernama Robertson menempati rumah putih di tepi pantai. Maka serombongan orang menuju ke rumah tersebut, akan tetapi para orang dewasa tidak memberitahukan Cameron pergi kemana, mereka ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.

Cameron langsung mengenali rumah tersebut, iapun bersuka cita. Namun ketika mereka melewati pintu masuk, mimik gembiranya telah lenyap dari wajah Cameron, ia berubah sangat pendiam. Penyewa sebelumnya telah meninggal, tapi juru kunci mempersilakan mereka memasuki rumah tersebut. Di dalam rumah itu ternyata terdapat 3 buah kamar mandi, dan dari jendela kamar tidurnya bisa terlihat pemandangan laut. Di dalam ruang tersebut masih terdapat sudut-sudut tersembunyi yang kesemuanya diketahui oleh Cameron.   Semenjak mereka kembali ke rumahnya di kota Glasgow, Cameron menjadi lebih pendiam. Norma mengatakan pergi ke pulau Bara adalah suatu hal terbaik yang telah mereka lakukan. Picnik kali ini telah membuat suasana hati Cameron menjadi lapang, ia tidak lagi mendambakan pulau Bara.

Para orang dewasa pun memahami Cameron bukan sedang mengarang cerita, mereka telah mendapatkan jawaban yang mereka cari. Akan tetapi yang jelas, memori terhadap kehidupan masa lampau seiring dengan bertambahnya usia si empunya cerita akan semakin memudar. Kisah Cameron telah dibuatkan film dokumenter yang berjudul “Anak Lelaki Ini Pernah Hidup Di Masa Lampau”oleh TV 5 Inggris.

Tang Jiangshan

Kisah Reinkarnasi yang mengharukan

Hai Nan – Tiongkok telah memuat sebuah kisah reinkarnasi yang mengharukan, mengkisahkan pengalaman dari Tang Jiangshan dari kecamatan Gan Cheng, kota Dong Fang di timur pulau/propinsi Hai Nan.

Tang Jiangshan lahir pada tahun 1976, sewaktu berumur 3 tahun pada suatu hari ia tiba-tiba mengatakan kepada kedua orangtuanya: “Saya bukan anak kalian, pada kehidupan lampau nama saya adalah Chen Mingdao, ayah kehidupan lampauku bernama San Die. Rumah saya di Dan Zhou, dekat laut.” Omongan ini kalau didengar orang lain bagaikan omong kosong, perlu diketahui, Dan Zhou terletak di utara pulau Hai Nan, berjarak 160 km dari kota Dong Fang.

Selain itu Tang Jiangshan mengatakan bahwasanya dirinya dibunuh dengan menggunakan golok dan tombak di dalam aksi kekerasan pada masa revolusi kebudayaan, konon di bagian pinggangnya masih terdapat bekas luka bacok peninggalan kehidupan masa lalu. Yang membuat orang merasa takjub ialah Tang Jiangshan mampu berbicara dialek Dan Zhou dengan sangat fasih. Orang Dan Zhou berbicara bahasa Jun, berbeda sekali dengan dialek Hok Kiannya kota Dong Fang, seorang bocah berumur beberapa tahun bagaimana bisa?

Pada saat Tang Jiangshan berumur 6 tahun, mendesak keluarga membawanya mengunjungi kerabatnya pada kehidupan masa lampau. Keluarganya tidak mau, maka ia mogok makan, akirnya sang ayah menurutinya, dan di bawah pengarahannya berkendaraan menuju tempat dimaksud di desa Huang Yu, kecamatan Xin Ying – kota Dan Zhou. Tang Jiangshan langsung menuju ke hadapan pak tua Chen Zan Ying, menggunakan bahasa Dan Zhou dan memanggilnya “San Die”, mengatakan dirinya bernama Chen Mingdao, adalah putra Chen Zan Ying yang pada masa revolusi besar kebudayaan oleh karena bentrokan fisik sehingga dibinasakan orang. Sesudah meninggal terlahir kembali di kecamatan Gan Cheng – kota Dong Fang, kini datang mencari orang tua kehidupan masa lampaunya.

Mendengar penuturan itu, Chen Zan Ying sejenak tertegun tak tahu bagaimana harus bersikap. Kemudian si anak kecil menunjukkan kamar tidur kehidupan masa lampaunya, dan menghitung satu persatu benda-benda pada kehidupan lampaunya. Menyaksikan semuanya ini dengan kenyataan pada masa lalu sama sekali tidak meleset, pak tua Chen Zan Ying saking terharunya berpelukan menangis dengan Tang Jiangshan dan memastikan ia memang adalah kelahiran kembali anaknya yang bernama Chen Mingdao.

Tang Jiangshan juga telah mengenali kedua kakak perempuan dan kedua adik perempuannya serta para sobat kampung lainnya, bahkan termasuk teman wanita pada kehidupan masa lampaunya: Xie Shuxiang. Semua kejadian ini telah membuat takluk kerabat dan tetangga Chen Mingdao. Sejak saat itu, “Manusia aneh dari 2 masa kehidupan”: Tang Jiangshan memiliki 2 rumah dan 2 pasang orang tua. Ia setiap tahun hilir mudik antara Dong Fang dan Dan Zhou. Si tua Chen Zan Ying beserta keluarga dan orang-orang desa pada menganggap Tang Jiangshan sebagai Chen Mingdao.  Oleh karena Chen Zan Ying tidak memiliki putra lainnya, Tang Jiangshan berperan menjadi anaknya dan berbakti hingga tahun 1998 ketika Chen Zan Ying meninggal dunia.

Para petugas bagian editor dari majalah tersebut pada awalnya juga tidak percaya akan hal tersebut, namun melalui pemeriksaan berulang kali dan pembuktian lapangan, mau tak mau juga mengakui kebenaran tentang kejadian tersebut.iya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: